Friday, July 25, 2014

‘Detik-detik terakhir’

"Bapak harus cepat meninggalkan istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang", ujar salah seorang tentara yang sudah tidak bersahabat lagi.
Ia beranjak ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "mana kakak-kakakmu?" tanyanya.
Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata , "Mereka pergi ke rumah Ibu". Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru.
Ia kemudian berkata, "Mas Guruh, Bapak sudah tidak boleh tinggal di istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara".
Ia pergi ke ruang depan dan mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan, ia maklum, ajudan itu sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu.
"Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, souvenir, dan macam-macam barang itu milik negara".
Semua ajudan menangis Bung Karno mau pergi, "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan?" salah satu ajudan hampir berteriak memprotes tindakan diamnya.
"Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit. jikalau perang dengan Belanda kita jelas hidungnya beda dengan hidung kita, perang dengan bangsa sendiri tidak. Lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara".
Beberapa orang dari dapur berlarian saat tahu Bung Karno mau pergi, mereka bilang "Pak kami tidak punya uang untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya".
Bung Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga hari itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa?".
Keesokan harinya saat ia sedang membenahi baju-bajunya datang seorang perwira. "Bapak harus segera meninggalkan tempat ini”. Beberapa tentara sudah memasuki beberapa ruangan.
Ia bergegas ke dalam ruangan. Satu-satunya benda yang tak ternilai harganya baginya adalah bendera pusaka. Ia membungkus bendera pusaka dengan kertas koran lalu ia masukkan bendera itu ke dalam kaos oblong yang ia kenakan. Ia tahu betul rezim penguasa tidak akan merawat bendera pusaka dengan baik.
"Aku pergi dulu," ujarnya kepada Ajudan Saelan.
"Bapak tidak berpakaian dulu?" tanya Ajudannya itu.
Ia mengibaskan tangannya, ia terburu buru. Ia meninggalkan Istana dengan mobil VW kodok. Ia minta diantarkan ke rumah Ibu Fatmawati di Sriwijaya, Kebayoran.
Di rumah Fatmawati, ia hanya bisa duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia sudah meminta agar Bendera Pusaka itu dirawat hati-hati. Pekerjaanya kini adalah mengguntingi daun-daun yang tumbuh di halaman.
Kadang-kadang ia memegang dadanya. Ia sakit ginjal parah. Tetapi obat-obatan yang biasanya diberikan tidak kunjung diberikan.
Baru beberapa minggu ia menetap di rumah Fatmawati, tiba-tiba datang satu truk tentara. Alasannya karena, Ia pernah mengajak salah seorang pembantunya yang bernama Nitri untuk jalan-jalan ke luar rumah. Saat melihat duku ia berkata, "Aku pengen duku Tri. Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang".
Nitri melihat dompetnya, setelah menghitung sejenak dan merasa cukup Nitri mendatangi tukang duku dan berkata, "Pak bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil".
Tukang duku itu berjalan dan mendekat mobil. "Mau pilih mana Pak, manis-manis nih," kata Tukang Duku dengan logat betawi.
Ia berkata "Coba kamu cari yang enak".
Si Tukang Duku merasa sangat akrab dengan suara itu dan dia berteriak "Loh itu kan suara Bapak. Bapak!!! Bapak!!!".
Tukang Duku berlari ke teman-temannya pedagang, "Ada Pak Karno! Ada Pak Karno!". Serentak banyak orang di pasar mengelilingi dirinya. Ia tertawa, tapi dalam hati ia takut orang ini akan jadi sasaran tentara, karena disangka mereka adalah pendukungnya. "Tri cepat jalan", perintahnya.
Mendengar Bung Karno ke luar rumah, maka tentara dengan cepat memerintahkan Bung Karno diasingkan.
Di Bogor, dia diasingkan ke Istana Batu Tulis dan dirawat oleh seorang Dokter Hewan.
Suatu saat Rachmawati datang dan melihat ayahnya, ia menangis keras saat tahu wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit jalan. Malamnya ia memohon pada bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat oleh keluarga.
"Coba aku tulis surat permohonan pada Presiden," kata Bung Karno dengan mengucurkan air mata. Dia menulis surat dengan tangan bergetar, dan pagi-pagi sekali Rachma ke Cendana, rumah Suharto.
Bu Tien terkejut melihat Rachma di Cendana. Bu Tien memeluk Rachma dan di saat itu Rachma bercerita tentang bapaknya, hati Bu Tien tersentuh dan menggenggam tangan Rachma lalu membawanya ke atas, ke ruang kerja Pak Harto.
"Lho Mbak Rachma ada apa?" Kata Pak Harto dengan nada santun. Rachma-pun menceritakan kondisi ayahnya.
Pak Harto memo yang memerintahkan anak buahnya untuk memindahkan Buk Karno ke Wisma Yaso. Disana Bung Karno tidak boleh keluar kamarnya yang tak terawat, berantakan sekali, bau dan tidak terurus. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu.
Dokter yang diperintahkan untuk merawat, Profesor Mahar Mardjono sampai menangis saat tahu bahwa semua obat-obatan Bung Karno, sudah dibersihkan dari laci obat atas dasar perintah perwira tinggi.
Mahar hanya bisa memberikan vitamin dan royal jelly, yang sesungguhnya adalah madu. Jika sulit tidur, dia diberi valium, Sukarno tidak diberikan obat, bila terjadi pembengkakan ginjal.
Pada tahun 1970, Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Wajah Bung Karno sudah bengkak. Karena banyak orang tahu Bung Karno datang ke rumah itu, orang-orang berteriak, "Hidup Bung Karno! Hidup Bung Karno! Hidup Bung Karno!".
Tanpa disadari Bung Karno tertawa dan melambaikan tangan. Tapi, dengan kasar tentara menurunkan tangan Sukarno, dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham, dia adalah seorang tahanan politik.
Tidak lama setelah itu, penyakit Bung Karno semakin parah. Ia tidak kuat berdiri. Ia cuma bisa tidur saja. Tidak boleh ada orang yang menengoknya.
Ia sering berteriak kesakitan, biasanya penderita penyakit ginjal banyak yang mengalami gangguan psikis. Ia berteriak, “sakit! sakit ya Allah!".
Tapi tentara terpaksa diam saja, karena disuruh komandan. Bahkan sampai ada salah satu tentara yang sampai menangis karena mendengar teriakan Bung Karno dari dalam kamar.
Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto, dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumah Hatta duduk di beranda, ia menangis mengenang sahabatnya itu.
Lalu ia bicara pada isterinya Rachmi, untuk bertemu dengan Bung Karno. "Kakak tidak mungkin bisa ke sana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik".
Hatta menoleh pada isterinya "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku. Kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama, agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan di antara kita, itu lumrah, tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno terlalu sakit seperti ini".
Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto, untuk bertemu Sukarno, Ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia boleh menjenguk Sukarno.
Saat Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno, Bung Karno sudah hampir tidak sadar. Tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal.
Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan, "bagaimana kabarmu No?" tanya Hatta. Bung Karno tercekat, mata Hatta sudah basah.
Bung Karno berkata lirih sambil tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda, bagaimana pula kabarmu?
Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya. Air mata Hatta jatuh di wajah Bung Karno. Keduannya pun menangis seperti anak kecil.
Dua proklamator bangsa ini menangis, di dalam kamar yang bau dan berantakan sekali. Kamar yang menjadi saksi, dua orang yang telah berjasa memerdekakan bangsa ini harus mengalami penderitaan yang disebabkan oleh bangsanya sendiri di akhir hidupnya.
Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Saat proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945, Bung Karno menunggu Hatta di kamarnya sebelum membaca naskah Proklamasi. Di penghujung hidupnya, Bung Karno juga menunggu kedatangan Hatta, sebelum ia pergi menemui Tuhan.
Mendengar kematian Bung Karno, rakyat Indonesia bingung. Banyak yang menangisi kepergian Bung Karno.
Tapi tentara melarang rakyat hadir di pemakaman Bung Karno. Tapi, sejarah tidak bisa dibohongi. Rakyat melawan.
Lebih dari lima kilometer orang berjejer di sepanjang jalan Gatot Soebroto untuk mengantarkan kepergian Bung Karno. Di Jawa Timur tentara yang diperintah untuk melarang rakyat melihat jenasah Bung Karno, malah justru hanya duduk-duduk saja di pinggir jalan. Begitu cintanya rakyat Indonesia pada Bapaknya.
Jutaan rakyat Indonesia berhamburan di jalanan pada 21 Juni 1970. Koran-koran yang isinya hanya menjelek-jelekkan Bung Karno, sontak tulisannya memuja Bung Karno.
Bung Karno yang sewaktu sakit dirawat oleh seorang dokter hewan, tidak diperlakukan secara manusiawi, namun meninggal dengan sangat mulia. Meski harus ditodong senapan sekalipun, jutaan rakyat tetap setia memberikan penghormatan terakhir pada dirinya.
Jangan sampai Bangsa kita mengulangi kesalahan yang sama.