"Bapak
harus cepat meninggalkan istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang", ujar
salah seorang tentara yang sudah tidak bersahabat lagi.
Ia beranjak ke
ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "mana kakak-kakakmu?"
tanyanya.
Guruh menoleh ke
arah Bapaknya dan berkata , "Mereka pergi ke rumah Ibu". Rumah Ibu
yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru.
Ia kemudian
berkata, "Mas Guruh, Bapak sudah tidak boleh tinggal di istana ini lagi,
kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu
punya negara".
Ia pergi ke
ruang depan dan mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa
ajudannya sudah tidak kelihatan, ia maklum, ajudan itu sudah ditangkapi karena
diduga terlibat Gestapu.
"Aku sudah
tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun,
Lukisan-lukisan itu, souvenir, dan macam-macam barang itu milik negara".
Semua ajudan
menangis Bung Karno mau pergi, "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari
dulu bapak tidak melawan?" salah satu ajudan hampir berteriak memprotes
tindakan diamnya.
"Kalian tau
apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit. jikalau
perang dengan Belanda kita jelas hidungnya beda dengan hidung kita, perang
dengan bangsa sendiri tidak. Lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa
saya harus perang saudara".
Beberapa orang
dari dapur berlarian saat tahu Bung Karno mau pergi, mereka bilang "Pak
kami tidak punya uang untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi belum
makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari
biasanya".
Bung Karno
tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga hari itu malah enak, kalian
masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa?".
Keesokan harinya
saat ia sedang membenahi baju-bajunya datang seorang perwira. "Bapak harus
segera meninggalkan tempat ini”. Beberapa tentara sudah memasuki beberapa
ruangan.
Ia bergegas ke
dalam ruangan. Satu-satunya benda yang tak ternilai harganya baginya adalah
bendera pusaka. Ia membungkus bendera pusaka dengan kertas koran lalu ia
masukkan bendera itu ke dalam kaos oblong yang ia kenakan. Ia tahu betul rezim
penguasa tidak akan merawat bendera pusaka dengan baik.
"Aku pergi
dulu," ujarnya kepada Ajudan Saelan.
"Bapak
tidak berpakaian dulu?" tanya Ajudannya itu.
Ia mengibaskan
tangannya, ia terburu buru. Ia meninggalkan Istana dengan mobil VW kodok. Ia
minta diantarkan ke rumah Ibu Fatmawati di Sriwijaya, Kebayoran.
Di rumah
Fatmawati, ia hanya bisa duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya
kosong. Ia sudah meminta agar Bendera Pusaka itu dirawat hati-hati. Pekerjaanya
kini adalah mengguntingi daun-daun yang tumbuh di halaman.
Kadang-kadang ia
memegang dadanya. Ia sakit ginjal parah. Tetapi obat-obatan yang biasanya
diberikan tidak kunjung diberikan.
Baru beberapa
minggu ia menetap di rumah Fatmawati, tiba-tiba datang satu truk tentara.
Alasannya karena, Ia pernah mengajak salah seorang pembantunya yang bernama
Nitri untuk jalan-jalan ke luar rumah. Saat melihat duku ia berkata, "Aku
pengen duku Tri. Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang".
Nitri melihat
dompetnya, setelah menghitung sejenak dan merasa cukup Nitri mendatangi tukang
duku dan berkata, "Pak bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil".
Tukang duku itu
berjalan dan mendekat mobil. "Mau pilih mana Pak, manis-manis nih,"
kata Tukang Duku dengan logat betawi.
Ia berkata
"Coba kamu cari yang enak".
Si Tukang Duku
merasa sangat akrab dengan suara itu dan dia berteriak "Loh itu kan suara
Bapak. Bapak!!! Bapak!!!".
Tukang Duku
berlari ke teman-temannya pedagang, "Ada Pak Karno! Ada Pak Karno!". Serentak
banyak orang di pasar mengelilingi dirinya. Ia tertawa, tapi dalam hati ia
takut orang ini akan jadi sasaran tentara, karena disangka mereka adalah pendukungnya.
"Tri cepat jalan", perintahnya.
Mendengar Bung
Karno ke luar rumah, maka tentara dengan cepat memerintahkan Bung Karno
diasingkan.
Di Bogor, dia
diasingkan ke Istana Batu Tulis dan dirawat oleh seorang Dokter Hewan.
Suatu saat
Rachmawati datang dan melihat ayahnya, ia menangis keras saat tahu wajah
ayahnya bengkak-bengkak dan sulit jalan. Malamnya ia memohon pada bapaknya agar
pergi ke Jakarta saja dan dirawat oleh keluarga.
"Coba aku
tulis surat permohonan pada Presiden," kata Bung Karno dengan mengucurkan
air mata. Dia menulis surat dengan tangan bergetar, dan pagi-pagi sekali Rachma
ke Cendana, rumah Suharto.
Bu Tien terkejut
melihat Rachma di Cendana. Bu Tien memeluk Rachma dan di saat itu Rachma
bercerita tentang bapaknya, hati Bu Tien tersentuh dan menggenggam tangan
Rachma lalu membawanya ke atas, ke ruang kerja Pak Harto.
"Lho Mbak
Rachma ada apa?" Kata Pak Harto dengan nada santun. Rachma-pun
menceritakan kondisi ayahnya.
Pak Harto memo yang
memerintahkan anak buahnya untuk memindahkan Buk Karno ke Wisma Yaso. Disana Bung
Karno tidak boleh keluar kamarnya yang tak terawat, berantakan sekali, bau dan
tidak terurus. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu.
Dokter yang
diperintahkan untuk merawat, Profesor Mahar Mardjono sampai menangis saat tahu
bahwa semua obat-obatan Bung Karno, sudah dibersihkan dari laci obat atas dasar
perintah perwira tinggi.
Mahar hanya bisa
memberikan vitamin dan royal jelly, yang sesungguhnya adalah madu. Jika sulit
tidur, dia diberi valium, Sukarno tidak diberikan obat, bila terjadi
pembengkakan ginjal.
Pada tahun 1970,
Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. Wajah
Bung Karno sudah bengkak. Karena banyak orang tahu Bung Karno datang ke rumah
itu, orang-orang berteriak, "Hidup Bung Karno! Hidup Bung Karno! Hidup
Bung Karno!".
Tanpa disadari
Bung Karno tertawa dan melambaikan tangan. Tapi, dengan kasar tentara
menurunkan tangan Sukarno, dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham, dia
adalah seorang tahanan politik.
Tidak lama
setelah itu, penyakit Bung Karno semakin parah. Ia tidak kuat berdiri. Ia cuma
bisa tidur saja. Tidak boleh ada orang yang menengoknya.
Ia sering
berteriak kesakitan, biasanya penderita penyakit ginjal banyak yang mengalami
gangguan psikis. Ia berteriak, “sakit! sakit ya Allah!".
Tapi tentara
terpaksa diam saja, karena disuruh komandan. Bahkan sampai ada salah satu
tentara yang sampai menangis karena mendengar teriakan Bung Karno dari dalam
kamar.
Hatta yang
dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto, dan mengecam cara
merawat Sukarno. Di rumah Hatta duduk di beranda, ia menangis mengenang
sahabatnya itu.
Lalu ia bicara
pada isterinya Rachmi, untuk bertemu dengan Bung Karno. "Kakak tidak
mungkin bisa ke sana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik".
Hatta menoleh
pada isterinya "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia
sahabatku. Kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama, agar negeri ini
merdeka. Bila memang ada perbedaan di antara kita, itu lumrah, tapi aku tak
tahan mendengar berita Sukarno terlalu sakit seperti ini".
Hatta menulis
surat dengan nada tegas kepada Suharto, untuk bertemu Sukarno, Ajaibnya surat
Hatta langsung disetujui, ia boleh menjenguk Sukarno.
Saat Hatta
datang sendirian ke kamar Bung Karno, Bung Karno sudah hampir tidak sadar.
Tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal.
Bung Karno
membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan, "bagaimana kabarmu No?"
tanya Hatta. Bung Karno tercekat, mata Hatta sudah basah.
Bung Karno
berkata lirih sambil tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het
met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda, bagaimana pula kabarmu?
Hatta memegang
lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya. Air mata Hatta jatuh di
wajah Bung Karno. Keduannya pun menangis seperti anak kecil.
Dua proklamator
bangsa ini menangis, di dalam kamar yang bau dan berantakan sekali. Kamar yang
menjadi saksi, dua orang yang telah berjasa memerdekakan bangsa ini harus
mengalami penderitaan yang disebabkan oleh bangsanya sendiri di akhir hidupnya.
Tak lama setelah
Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Saat proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945,
Bung Karno menunggu Hatta di kamarnya sebelum membaca naskah Proklamasi. Di
penghujung hidupnya, Bung Karno juga menunggu kedatangan Hatta, sebelum ia pergi
menemui Tuhan.
Mendengar
kematian Bung Karno, rakyat Indonesia bingung. Banyak yang menangisi kepergian
Bung Karno.
Tapi tentara melarang
rakyat hadir di pemakaman Bung Karno. Tapi, sejarah tidak bisa dibohongi.
Rakyat melawan.
Lebih dari lima
kilometer orang berjejer di sepanjang jalan Gatot Soebroto untuk mengantarkan
kepergian Bung Karno. Di Jawa Timur tentara yang diperintah untuk melarang
rakyat melihat jenasah Bung Karno, malah justru hanya duduk-duduk saja di
pinggir jalan. Begitu cintanya rakyat Indonesia pada Bapaknya.
Jutaan rakyat Indonesia
berhamburan di jalanan pada 21 Juni 1970. Koran-koran yang isinya hanya
menjelek-jelekkan Bung Karno, sontak tulisannya memuja Bung Karno.
Bung Karno yang
sewaktu sakit dirawat oleh seorang dokter hewan, tidak diperlakukan secara
manusiawi, namun meninggal dengan sangat mulia. Meski harus ditodong senapan sekalipun, jutaan rakyat tetap setia memberikan penghormatan terakhir pada dirinya.
Jangan sampai Bangsa kita mengulangi kesalahan yang sama.